Artikel PTBK Miftahudin, S.Pd, M.Si

Meningkatkan Sikap Pantang Menyerah Melalui Bimbingan Klasikal Dengan Metode Student Facilitator and Explaining (SFAE)

Pada Siswa Kelas XI AKL 2 SMK Muhammadiyah Salaman

 

 

Miftahudin

SMK Muhammadiyah Salaman

www.smkmuhsalaman.sch.id

ABSTRAK

Penelitian Tindakan Bimbingan Konseling (PTBK) ini bertujuan untuk mengetahui metode Student Facilitator and Explaining (SFAE) bisa meningkatkan sikap pantang menyerah pelajar karena pandemi covid 19 Tahun Pelajaran 2020/2021 dengan jumlah siswa sebanyak 18.  Tindakan yang dilakukan dengan menerapkan metode Student Facilitator and Explaining (SFAE) pada layanan klasikal. Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga siklus. Berdasarkan hasil yang diperoleh selama pelaksanaan penelitian tindakan bimbingan konseling, dapat di jelaskan bahwa: hasil peningkatan sikap pantang menyerah siswa dari pretest/tes awal sikap pantang menyerah skor rata-rata yaitu 20,7. Pada siklus I diberikan tindakan dengan metode Student Facilitator and Explaining (SFAE), pada siklus II diberikan tindakan dengan metode Student Facilitator and Explaining (SFAE), dan pada siklus III diberikan tindakan dengan metode Student Facilitator and Explaining (SFAE) dan dilanjutkan tes akhir atau post test. Hasil test akhir/post test  memenuhi kategori baik, yaitu 58,7. Terdapat kenaikan yang signifikan sebelum dan sesudah dilakakan perlakuan, rata-rata skor sebelum perlakuan yaitu 124 atau 20,7% (Kategori Kurang) dan rata-rata skor sesudah perlakuan yaitu 352 atau 58,7% (Kategori Baik) . Berarti terdapat kenaikan skor rata-rata yaitu sebesar 228 atau 30%. Maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis alternatif dapat diterima, bahwa: metode Student Facilitator and Explaining (SFAE) bisa meningkatkan sikap pantang menyerah pelajar karena pandemi covid 19 Tahun Pelajaran 2020/2021.

Kata kunci: Sikap pantang menyerah, Student Facilitator and Explaining

  1. PENDAHULUAN

Pendidikan menjadi suatu kebutuhan yang mendasar bagi kemajuan bangsa. Hal ini dikarenakan pendidikan memiliki peranan penting untuk menjamin kelangsungan dan perkembangan bangsa itu sendiri. Untuk mencapai kemajuan bangsa yang diharapkan, maka dibutuhkan suatu pendidikan yang berkualitas yang disesuaikan dengan perkembangan di era masa sekarang yang dihadapkan dengan ilmu teknologi yang semakin lama semakin canggih dan modern.

Hampir semua manusia dikenai pendidikan dan melaksanakan pendidikan. Sebab pendidikan tidak pernah terpisahkan dengan kehidupan manusia. Anak-anak menerima pendidikan dari orang tuanya dan manakala anak-anaknya. Begitu pula di sekolahan dan di keluarga mereka juga akan mendidik anak-anaknya. Begitu pula di sekolahan dan perguruan tinggi. Para siswa dan mahasiswa didik oleh guru dan dosen. Pendidikan adalah khas milik dan alat manusia. Tidak ada makhluk lain yang membutuhkan pendidikan (Pidarta, 2007: 1).

Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memilki kekuatan spiritual, keagaamaan, pengendalian diri kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (UU No.20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 1). Melalui belajar peserta didik akan dapat menggali kemampuan, bakat maupun minatnya untuk dikembangkan agar menghasilkan manusia-manusia cerdas dan keterampilan untuk mempersiapkan diri demi masa depan. Hal ini menjadi pendorong peserta didik untuk mencapai keberhasilan yaitu untuk memperoleh pendidikan yang layak seperti pembelajaran jarak jauh (PJJ) seperti pandemi covid 19 ini.

Allah berfirman, “Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (QS Yusuf : 87)

Manusia hidup tidak pernah lepas dari masalah. Baik itu masalah yang sifatnya internal (di dalam diri manusia) maupun eksternal (di luar diri manusia). Masalah sendiri sesungguhnya adalah bentuk ujian dari Allah, guna menyeleksi siapa yang tahan ujian, kemudian lulus, dan siapa yang tidak tahan ujian, kemudian gagal, menyerah, dan putus asa.

Belajar di sekolahan merupakan kegiatan yang secara keseluruhan berlangsung cukup lama, membutuhkan waktu yang relative panjang, menghadapi sejumlah mata pelajaran yang kadang-kadang sukar dan kurang menarik. Proses pembelajaran menuntut kesungguhan, ketekunan, keuletan, kerajinan, kesabaran dan sebagainya baik dari pihak pendidik maupun peserta didik. Pembelajaran dikatakan baik jika tujuan awal, umum, dan khusus tercapai. Orang dewasa yang mempunyai kebutuhan akan keingintahuan yang tinggi, mempunyai karakteristik yang berbeda dalam hal psikologis mereka. Pantang menyerah tentu berkaitan dengan psikologis anak. Oleh karena itu tidak dipungkiri apabila ada peserta didik yang kadang-kadang merasa jenuh, bosan dan kurang tertarik terhadap pelajaran dari mata pelajaran dan dari guru mata pelajaran. Guru-guru memang berkewajiban untuk merancang, menciptakan situasi dan melaksanakan proses pembelajaran yang menarik dan memberi kemudahan kepada siswa. Namun di pihak lain para peserta didik sendiri dituntut agar memiliki sikap pantang menyerah untuk belajar. Sebab proses belajar dan pembelajaran akan efektif apabila didasari oleh adanya semangat yang tinggi.

Kegiatan belajar dengan semangat yang tinggi sangat diperlukan, sebab apabila ada seorang siswa, misalnya tidak berbuat sesuatu yang seharusnya dia kerjakan, maka perlu diselidiki sebab-sebabnya. Sebab-sebab itu biasanya bermacam-macam, mungkin ia tidak senang, mungkin lapar, ada problem pribadi dan lain-lain. Hal ini berarti pada diri anak tidak terjadi perubahan energi, tidak memilki tujuan karena tidak memiliki tujuan atau kebutuhan belajar. Keadaan semacam ini perlu dilakukan upaya yang dapat menemukan sebab-musababnya dan kemudian mendorong siswa itu untuk mau melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan yakni belajar. Oleh karena itu siswa perlu diberi rangsangan agar tumbuh semangat pada dirinya (Djamarah, 2002: 114).

Pantang menyerah terdiri dari dua kata yaitu pantang dan menyerah. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, pantang berarti hal (perbuatan) yang terlarang menurut adat atau kepercayaan, sedangkan menyerah adalah berserah; pasrah; kita tidak mampu berbuat apa-apa selain dari-kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Secara terminologi (menurut istilah), pantang menyerah adalah tidak mudah putus asa dalam melakukan sesuatu, selalu bersikap optimis, mudah bangkit dari keterpurukan.

Sikap pantang menyerah merupakan cerminan bangsa Indonesia. Para pahlawan Indonesia memiliki sikap pantang menyerah dalam membela negara. Contohnya, Ir. Soekarno, beliau tidak takut menyuarakan kebenaran demi merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah meskipun banyak rintangan yang harus dihadapi beliau tetap saja mencoba dan mencoba sampai akhirnya Indonesia berhasil merdeka. Kita sebagai penerus bangsa patut meneladani sikap pantang menyerah yang diwariskan para leluhur demi mempertahankan kesatuan dan keutuhan negara Indonesia.

Kegiatan pembelajaran di sekolah, sering kali dihadapkan dengan sejumlah karakteristik peserta didik yang beraneka ragam. Ada yang dapat menempuh kegiatan belajarnya secara lancar dan berhasil, namun disisi lain tidak sedikit pula siswa yang justru dalam belajarnya mengalami kesulitan/hambatan apalagi dengan kondisi pandemi covid 19. Hambatan-hambatan antara lain; pertama kemampuan untuk dapat bangkit kembali dari situasi pandemi covid 19; kedua kemampuan dapat membantu mengelola stres, mengurangi kemungkinan terjadinya depresi, dan terbukti dapat membuat orang panjang umur; ketiga penguasaan teknologi yang dimiliki oleh guru dan orang tua serta peserta didik, semakin membengkak biaya paket data (kuota), kondisi jaringan telekomunikasi yang belum merata atau setabil, tidak semua memiliki smartphone; keempat ketercapaian materi pembelajaran yang kurang efektif, feed back atau umpan balik dari guru dan siswa yang tidak optimal, durasi waktu pembelajaran jarak jauh yang tidak sama dengan pembelajaran langsung, muatan pendidikan karakter dalam mata pembelajaran dan ekstra kurikuler kurang optimal, serta radiasi cahaya yang ditimbulkan dari hand phone. Berbagai permasalahan yang dialami oleh siswa apabila tidak ditangani secara serius akan memberikan pengaruh buruk dalam hasil belajarnya yaitu pencapaian nilai prestasi belajar yang belum maksimal.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu dilakukan upaya-upaya untuk mengidentifikasi permasalahan belajar yang dialami oleh peserta didik secara lebih spesifik agar dapat diperbaiki sampai akhirnya tumbuh sikap pantang menyerah yang ada pada diri anak. Adapun upaya yang dapat dilakuukan untuk meningkatkan sikap pantang menyerah pada diri siswa misalnya dengan memberikan pengertian tentang pentingnya belajar, kemajuan-kemajuan yang diperoleh dengan belajar dan menggambarkan orang-orang yang sukses karena rajin dan giat belajar, memberikan pujian terhadap prestasi yang diperoleh dan memberikan penghargaan terhadap pribadi anak (Sukmadinata, 2007: 407).

Sebagai Guru BK yang peduli terhadap perkembangan yang dihadapi anak dalam kondisi pandemi covid 19, maka penulis ingin  membantu membimbing anak yang memiliki sikap pantang menyerah belum optimal. Salah satu metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan instrumen need asesmen dua minggu pekan yang lalu kami lakukan. Berdasarkan data yang diperoleh dari observasi dan need asesmen, masih banyak siswa yang memiliki sikap pantang menyerah belum optimal, antara lain: 1. Sering tidak konsentrasi; 2. Suka mengacuhkan atau banyak alasan; 3. Sering tidak mengerjakan tugas; 4. Kurang aktif dalam proses kegiatan pembelajaran jarak jauh. Masih banyaknya sikap pantang menyerah bukan tanpa penyebab, salah satu penyebabnya adalah belum adanya kesadaran siswa dalam bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Dengan keadaan seperti ini, tidak bisa dibiarkan, karena hal ini dapat merugikan diri siswa itu sendiri dan orang lain.

Guru hendaknya menggunakan model pembelajaran yang melibatkan keaktifan siswa dalam proses layanan klasikal, sehingga diharapkan siswa merasa dihargai, dapat mengembangkan potensi karena adanya timbal balik/komunikasi dua arah antara guru dan siswa dan hasil belajar siswa menjadi lebih baik. Jadi model pembelajaran yang digunakan setiap pertemuan tidak monoton hanya ceramah, tanya jawab, penugasan, dll. Akan tetapi, dalam setiap pertemuan menggunakan model pembelajaran yang bervariasi, yang tentunya disesuaikan dengan situasi dan kondisi siswa dan materi.

Rachmad Widodo (2009: 43) model pembelajaran Student Facilitator and Explaining merupakan model pembelajaran dimana siswa/peserta didik belajar mempresentasikan ide/pendapat pada rekan peserta didik lainnya. Model pembelajaran Student Facilitator and Explaining merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang melibatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok kelompok kecil dengan jumlah anggota tiap kelompok 4-5 siswa secara heterogen (Trianto, 2007: 52).

Menurut Suprijono (2009: 128), model pembelajaran Student Facilitator and Explaining adalah model yang melibatkan keaktifan siswa yang memiliki enam sintaks, yaitu: 1) Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai, 2) Guru mendemonstrasikan/menyajikan materi, 3) memberikan kesempatan siswa untuk menjelaskan kepada siswa lainnya misalnya melalui bagan/peta konsep, 4) Guru menyimpulkan ide/pendapat dari siswa, 5) Guru menerangkan semua materi yang disajikan saat itu, 6) Penutup. Model pembelajaran Student Facilitator and Explaining merupakan metode  pembelajaran aktif. Hakikatnya pembelajaran aktif untuk mengarahkan atensi peseta didik terhadap materi yang dipelajarinya.

Sejalan dengan tugas ini maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tindakan bimbingan dan konseling (PTBK) tentang siswa yang belum optimal dalam pembelajaran jarak jauh karena dampak pandemi covid 19. Penelitian tindakan BK dilakukan dalam rangka membantu siswa untuk meningkatkan sikap pantang menyerah sebagai pelajar dan memiliki semangat untuk mencapai hasil belajar yang seperti diharapkan setelah pemberian model pembelajaran Student Facilitator and Explaining ini, siswa dapat meningkatkan sikap pantang menyerah sehingga semangat belajarnya semakin meningkat. Berdasarkan hal tersebut, maka penulis melakukan penelitian dengan judul Meningkatkan Sikap Pantang Menyerah melalui Bimbingan Klasikal dengan Metode Student Facilitator and Explaining (SFAE) Siswa Kelas XI AKL SMK Muhammadiyah Salaman”.

 

  1. METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling (PTBK) dengan menggunakan  metode Student Facilitator and Explaining (SFAE). Arikunto dkk  (2006: 85),  Penelitian tindakan kelas adalah penelitian tindakan yang dilakukan di kelas dengan tujuan memperbaiki atau meningkatkan mutu praktek pembelajaran.

Menurut Soedarsono (2007: 15), Penelitian tindakan kelas merupakan suatu proses guru dan murid menginginkan terjadinya perbaikan, peningkatan, dan perubahan pembelajaran yang lebih baik agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal.  Perlunya penelitian menurut  Roel ( 2010: 51 ),  sebagai berikut:

Empat sebab yang melatarbelakanginya. Pertama, karena pengetahuan, pemahaman dan kemampuan manusia sangat terbatas, dibandingkan dengan lingkungannya yang begitu luas. Kedua, manusia memeliki dorongan untuk mengetahui atau coriousity. Ketiga, manusia di dalam kehidupannya selalu dihadapkan kepada masalah, tantangan, ancaman, kesulitan, baik di dalam dirinya, keluarganya, masyarakat sekitarnya serta di lingkungan kerjanya. Keempat, manusia merasa tidak puas dengan apa yang telah dicapai, dikuasai, dan dimilikinya, ia selalu ingin yang lebih baik, lebih sempurna, lebih memberikan kemudahan, selalu ingin menambah dan meningkatkan “ kekayaan “ dan fasilitas hidupnya.

Sifat penelitian dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling (PTBK) yang terdiri dari siklus-siklus tindakan dalam mana setiap siklus terdiri dari : perencanaan, tindakan, pengamatan, refleksi.

 

  1. PEMBAHASAN

Dalam penelitian ini dibahas adalah meningkatkan sikap pantang menyerah melalui bimbingan klasikal dengan metode Student Facilitator and Explaining (SFAE) pada siswa kelas XI AKL 2 SMK Muhammadiyah Salaman Tahun Pelajaran 2020/2021. Sebelum dilakukan tindakan siklus I sampai dengan tindakan siklus III, sikap yang menunjukkan rendahnya sikap pantang menyerah cukup banyak bahkan di kategorikan hamper semua satu kelas. Indikator ketercapaian sikap pantang menyerah adalah sebagai berikut: (a) menunjukan kesungguhan dalam melakukan tugas; (b) tetap bertahan pada tugas yang diterima walaupun menghadapi kesulitan; (c) berusaha mencari pemecahan terhadap permasalahan; (d) menyelesaikan tugas dalam batas waktu yang ditentukan; (e) menggunakan segala kemampuan atau daya untuk menyapai sasaran; (f) berusaha mencari berbagai alternatif pemecahan ketika menemui hambatan. Target peningkatan sikap yang menunjukkan sikap pantang menyerah adalah baik dan/atau sangat baik yaitu dengan nilai 37-72.

Metode yang digunakan dalam layanan klasikal bertujuan untuk mengubah sikap pantang menyerah bagi pelajar dalam kondisi pandemi covid 19. Dalam penelitian ini metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan sikap pantang menyerah adalah metode Student Facilitator and Explaining (SFAE).

Setelah diberikan tindakan siklus I sampai dengan tindakan siklus III berupa metode Student Facilitator and Explaining (SFAE), sikap yang menunjukkan sikap pantang menyerah mulai meningkat. Secara kuantitatif peningkatan sikap pantang menyerah adalah sebesar 50% kategori baik terdiri dari 9 siswa dan 50% dalam kategori sangat baik juga 9 siswa.

Setelah diberikan tindakan metode Student Facilitator and Explaining (SFAE) maka sikap pantang menyerah dapat dilihat dari table di bawah ini.

Tabel 1

Perubahan Sikap Pantang Menyerah bagi siswa

kelas AKL 2 Tahun Pelajaran 2020/2021

dengan Metode Students Facilitator and Explaining

No Aspek Siklus I Siklus II Siklus III
Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
1. Menunjukan kesungguhan dalam melakukan tugas 28 40 40 58 58 69
2. Tetap bertahan pada tugas yang diterima walaupun menghadapi kesulitan 23 37 37 50 50 63
3. Berusaha mencari pemecahan terhadap permasalahan 27 36 36 47 47 58
4. Menyelesaikan tugas dalam batas waktu yang ditentukan 9 27 27 34 34 49
5. Menggunakan segala kemampuan atau daya untuk menyapai sasaran 20 34 34 46 46 57
6. Berusaha mencari berbagai alternatif pemecahan ketika menemui hambatan 17 32 32 40 40 56
Jumlah ∑ 124 206 206 275 275 352
Rata-rata 20.7 34.3 34.3 45.8 45.8 58.7

 

Secara keseluruhan kenaikan nilai sikap pantang menyerah yang semula 20,7% meningkat menjadi 58,7%. Nilai peningkatan sikap pantang menyerah pada siswa dari siklus I sampai siklus III adalah:

  • Menunjukan kesungguhan dalam melakukan tugas, sebelum dilakukan tindakan mendapatkan nilai 28. Setelah diberikan tindakan layanan klasikal dengan metode Student Facilitator and Explaining pada siswa maka nilai tersebut berubah menjadi 69 dalam kategori baik sekali.
  • Tetap bertahan pada tugas yang diterima walaupun menghadapi kesulitan, sebelum dilakukan tindakan mendapatkan nilai 23. Setelah diberikan tindakan layanan klasikal dengan metode Student Facilitator and Explaining pada siswa maka nilai tersebut berubah menjadi 63 dalam kategori baik sekali.
  • Berusaha mencari pemecahan terhadap permasalahan, sebelum dilakukan tindakan mendapatkan nilai 27. Setelah diberikan tindakan layanan klasikal dengan metode Student Facilitator and Explaining pada siswa maka nilai tersebut berubah menjadi 58 dalam kategori baik sekali.
  • Menyelesaikan tugas dalam batas waktu yang ditentukan, sebelum dilakukan tindakan mendapatkan nilai 9. Setelah diberikan tindakan layanan klasikal dengan metode Student Facilitator and Explaining pada siswa maka nilai tersebut berubah menjadi 49 dalam kategori baik.
  • Menggunakan segala kemampuan atau daya untuk menyapai sasaran, sebelum dilakukan tindakan mendapatkan nilai 20. Setelah diberikan tindakan layanan klasikal dengan metode Student Facilitator and Explaining pada siswa maka nilai tersebut berubah menjadi 57 dalam kategori baik sekali.
  • Berusaha mencari berbagai alternatif pemecahan ketika menemui hambatan, sebelum dilakukan tindakan mendapatkan nilai 17. Setelah diberikan tindakan layanan klasikal dengan metode Student Facilitator and Explaining pada siswa maka nilai tersebut berubah menjadi 56 dalam kategori baik sekali.

Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat dinyatakan bahwa upaya peningkatan sikap panang menyerah melalu metode metode Student Facilitator and Explaining pada siswa kelas XI AKL 2 SMK Muhammadiyah Salaman Tahun Pelajaran 2020/2021. Metode Student Facilitator and Explaining dapat menangani rendahnya sikap pantang menyerah. Oleh karena itu, jenis metode Student Facilitator and Explaining kiranya dapat dipertimbangkan oleh Guru mata pelajaran Bimbingan dan Konseling untuk layanan klasikal dengan topik sikap pantang menyerah. Dengan demikian, metode Student Facilitator and Explaining ini juga sekaligus mengandung nilai sikap bagi seseorang untuk belajar semangat belajar khususnya dalam kondisi pandemi covid 19 dalam konteks pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ahmad Juntika Nurihsan, 2007. Bimbingan  dan Konseling dalam Berbagai Latar. Kehidupan, Bandung: PT Refika Aditama.

Arikunto, Suharsimi. 2006. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta.

Daryanto. 2008. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Depdikbud. 2006. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka.

Djamarah dan Zain. 2002. Strategi Belajar Mengajar . Jakarta: PT Rineka Cipta.

Djamarah, Bahri Syaiful dan Zain, Aswan. 2010. Strategi Belajar Mengajar . Jakarta: Rineka Cipta.

Djamarah, SyaifulBahri. 2008. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Gross, D.R. 2001. Introduction To Counseling: Perspektives for The 1990s. Boston: Allyn and Bacon.

http://surantoro.staff.fkip.uns.ac.id/ (14 Oktober 2020).

http://www.scribd.com/doc/61780036/Model-Pembelajaran-Student-Facilitator And-Explaining

Ibrahim & Nana Syaodih. 2003. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Kartadinata, Sunarno, 2006. Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai : Jakarta: Rineka Cipta.

Konseng, A, 2006. Konseling Pirbadi Dengan Model Konseling Carkhuff: Obor. Jakarta.

Purwanto, M. Ngalim. 2004. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Sudrajat, Akhmad, 2008. Landasan Bimbingan dan Konseling. http://akhmad sudrajat.wordpress.com.

Sukardi, Dewa, Ketut, 2003. Analisis Tes Psikologi: PT. Erlangga. Jakarta.

Sukmadinata, Nana Syaodih. 2009. Metode  PenelitianPendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Suprijono. 2009. Cooperative Learning (Teori & Aplikasi PAIKEM). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.